Langsung saja ada sebuah cerita tentang dua saudara, kakat beradik.
Kakak beradik
Ayah mereka telah lanjut usia dan sedang sakit parah. Saat itu ayhnya berada di ambang kematian. Sang ayah kemudian memanggil kedua anknya yang mulai beranjak dewasa. Sang ayah berwasiat kepada kedua anknya, “Ayah memiliki sebidang tanah yang akan ayah wariskan kepada kalian. Tanami dan makmurkan tanah itu. Kalian hidulah disitu dan makanlah dari hasilnya!” katanya.
Sepeninggalan ayahnya kedua pemuda ini hidup dengan baik dan rukun. Kebutuhan mereka tercukupi, sampai akhirnya mereka menikah dan memiliki anak. Suatu hari sang adik datang menemui kakanya dan mengatakan “Kamu telah dilahirkan enam tahun lebih dulu dariku. Berarti kamu telah mengambil hasil bumi ini lebih banyak dariku. Karena itu aku sekarang berhak mengambil hasil panen dan tanah lebih banyak darimu!” “Cukup sampai disitu!” sela kakanya.
“aku telah dilahirkan lebih dulu darimu. Aku telah letih dan capek lebih dulu ditanah ini. Sebelum dirimu ada. Karena itulah, aku letih dan capekku selama enam tahun ini!” keduanya bertengkar dan akirnya sang kakak berkata, “Kita bagi tanahnya!” sang kakak lalu mendatangkan tukang kayu dan berpesan padanya, “Saya mau pergi kepasar untuk membeli barang-barang yang diperlukan tanah ini. Saya akan pergi selama 8 jam.
Apakah waktu itu cukup untuk membangun pagar yang memisahkan diriku dan saudaraku sehingga aku tidak melihatnya dan juga iya tidah melihatku?” “Ya” jawab si tukang kayu. Anehnya si tukang kayu itu bukannya membangun pagar, ia malah membangun jembatan yang menghubungkan mereka. Sehingga kakak beradik itu bertemu di atas jembatan. Mereka saling berpelukan dan meminta maaf. Sang kakak berkata kepada adiknya, “Ambillah hakmu karena aku telah merawat dan mengasuhmu. Aku lebih mencitaimu. Tidak penting apa yang akan kamu ambil!” sang adik menjawab kepada kakaknya, “Ambillah hakmu karena kamu lebih dulu letih ditanah ini.”
Apa yang anda pelajari dari cerita diatas? Teryata, sikap tidak mau memaafkan akan menimbulkan kekuatan negatif pada pikiran manusia dan menjadikan ia seorang yang pendendam kepada orang lain.
Pada dasarnya memberi maaf bukanlah antara anda dengan orang lain, tetapi antara diri anda dengan Allah. Saat itu adalah kesempatan paling tepat unuk anda semakin dekat dengan Allah. Karena ketika anda memberi maaf kepada orang-orang disekeliling anda, atau orang yang menyakiti anda, maka otak tidak perlu sibuk memikirkan perilaku orang lain kepada anda. Anda tidak perlu memikirkan bagaimana ia tega menyakiti anda, dan bagaimana cara membalasnya. Dengan memaafkannya, hati anda akan lapang, plog, dan istirahatpun juga nyaman. Iya kan?
Memaafkan merupakan inti kekuatan yang murni dan bersih. Kedunyamerupakan pondasi masa depan yang cermerlang. Karena dari permasalahan tersebut, anda bisa memetik pelajaran untuk memperbaiki hubungan anda dengan Allah, begitu juga pada sesamanya.
Meminta maaf atau memaafkan Manakah yang lebih baik?
Antara memberi dan meminta maaf, keduanya sangat baik, yang tidak baik adalah tidak mau memaafkan dan tidak mau meminta maaf. Oleh karena itu, memaafkan adalah kebeningan dan kejernihan internal. Anda harus ikhlas memberi maaf terlebih dahulu agar menghilangkan ganjalan-ganjalan yang ada dalam diri anda.setelah itu anda akan menjadi seorang ayng memiliki jiwa bersih, dan hati yang bening luar dalam.
Bila Allah menganjurkan untuk memaafkan, tentu ada hikmah besar dibalik perintah itu. Tidak mungkin tanpa makna dan manfaat bagi manusia. Dahlan AS Nataprawira pernah mengatakan, “pemaaf itui barat seorang yang menginjak bunga melati yang mekar berbunga, sang bunga mungkin rusak kelopaknya dan ia menghadiahi sang penginjaknya dengan sari harum aromanya.”
Pertama, secara spiritual, dengan memberi maf otomatis akan membuat anda dekat kepada Allah, dekat pada ampunan Allah, dekat pula dengan orang-orang sekeliling anda. Pernahkan anda berfikir, seandainya detik ini ajal tiba? Sedangkan anda masih menyimpan rasa dendam dan tidak bersedia memaafkan? Anda tahu apa ang akan terjadi kelak diakhirat? Coba pikirkan.
Kedua, secara kesehatan, ketika anda tidak memaafkan, lambung anda akan mengeluarkan zat asam, hamud. Para ilmuan pernah mencoba menaruh zat ini kedalam makanan tikus, dan hasilnya tikus tersebut mati. Begitu pula dengan otak menjadi masygul karena memikirkan perbuatan orang yang menyakiti anda, dan berupaya untuk membalasnya. Pikiran menjadi galau dan akhirnay membuat anda gampang nervous, emosi, dan mudah marah.
Nah, ketika anda sholat, berdoalah untuk kebaikan orang yang telah mendzolimi anda, atau orang yang telah berbuat buruk kepada anda. Jangan berdoa untuk mencelakainya, siapa tahu Allah memberi hidayah disebabkan doa anda. Sehingga anda mendapat pahala doa dan perbuatan baik yang anda lakukannya. Nabi saw bersabda :
“(lembutnya doamu) agar allah memberikan petunjuk kepada seseorang itu lebih baik bagimu daripada membaranya (doamu) karena rasa dendam.”
Memberi maaf adalah obat kesalahan masa lalu dan penolong masa depan. Hari ini betapa banyak kita temukan saudara-saudara yang mengalami depresi, trauma dan ketakutan, bukan karena tidak memiliki materi, bukan pula kekurangaan koneksi, justru rata-rata mereka cukup melimpah. Apa yang memnyebabkan hal itu? Sebagian besar yang menyebabkan adalah sempitnay jiwa dan enggan melupakan masa lalu, berat untuk memaafkan apa yang telah berlalu.
Nah, jika anda tidak memaafkan masa lalu, pundak nd akan terus memikaul kesalahana itu sepanjang hidup. Dan anda tidak akan melangkah maju sedikitpun. Betapa banyak orang yang karena sikapnay dalam penyesalan sepanjang hidup. Ia hanyut meratapi kemalangan sepanjang umur.